Selamat Datang di Situs Kami

Minggu, 05 Desember 2010

Maafkan Aku Ayah

Oleh : Zumrotul Hamidah

“Zola Fatimah Az-Zahra”, itulah namaku. Aku biasa dipanggil dengan sebutan “Zola”. Ku terlahir dari keluarga yang pas-pasan. Saat deru ombak masalah dating menerjang, ku ingin pergi. Memijakkan kaki lari menghindar sejauh mungkin. Tetapi saat ku melangkah untuk pergi hatiku mengiba.. Menghalangi langkahku dan memintaku menorah ke belakang. Sesaat terjadi konflik antara hati dengan segenap keinginanku. Tetapi pada akhirnya hati kecilkulah yang memenangkan konflik itu. Perlahan namun pasti, aku menoleh ke belakang, dan dalam hitungan detik linangan air mata membasahi pipiku.


Hatiku menjerit……….!

Saat aku memandangi sebuah gubuk kecil yang berpenghunikan sepasang suami istri yang sedang sakit-sakitan, lantaran bekerja keras setiap hari membanting tulang. Hanya demi sesuap nasi dan mempertahakan kelangsungan hidup. Sayup-sayup ku memandang lekat gubuk itu disertai dengan isak tangis yang lirih. Semua tergambar jelas di gubuk kecil itu. Semua kenangan yang indah. Saat-saat Ibu, Ayah, aku dan juga kakakku berkumpul bersama. Dari situlah tercipta tawa dan momentum yang tertanam di dalam sanubariku. Cukup lama aku berdiam diri di depan rumah. Hingga akhirnya ku temukan satu keputusan untuk mengurungkan niat pergi meninggalkan rumah. Aku memutuskan tuk merawat Ibu dan juga Ayah. Kuusap air mataku perlahan dan melangkah masuk ke dalam rumah.



u u u



Seberkas cahaya terang masuk ke dalam kamarku melewati celah-celah jendela kamar. Itu pertanda pagi tlah tiba. Aku pun beranjak dari tempat tidurku.

“klonthenggg …”

Saat aku hendak ke kamar mandi, terdengar bunyi panci terjatuh. Dan suara itu bersumber dari dapur. Secepat mungkin aku menuju dapur. Dan ternyata ibu sedang mengambil panci untuk meamasak.

“Ibu …!” Jeritku seketika, saat aku mendapati Ibu hendak terjatuh pingsan.

“Ngapain sih Ibu masak. Udah Ibu istirahat aja ya! Biar zola yang memasak Ibu.” Pintaku.

“Tapi Ibu masih kuat Zola …!!” Jawab Ibu dengan lemas dan lunglai.. dengan sabarnya aku membopong & mengantar Ibu menuju kamar.

Sesaat sebelum aku meninggalkan kamar Ibu aku sempat menitikkan air mata. Aku merasa seperti anak yang tiada guna. Aku tidak tega jika harus melihat kedua orang tuaku terbaring lemah tak berdaya.

Senja yang luruh berganti dengan malam yang kelam. Dinginnya angin malam terasa sangat menusuk jiwaku hingga ke tulang belulangku. Menjadikan tangan dan kakiku dingin seketika. Ku rebahkan tubuhku di atas pembaringan.

Sambil ku memandangi atap, fikiranku melayang ke dalam lamunan. Kalau biasanya aku mengkhayal tentang hari esok. Kini ku coba mengingat kembali kejadian tadi pagi.

Saat aku melihat ayah dicemooh oleh orang-orang ketika hendak pergi ke sawah. Mereka selalu menyindir keluargaku dengan memamerkan harta benda yang mereka miliki. Memang sieh di sekitar rumahku rata-rata adalah pegawai & pejabat. Hanya segelintir saja yang pekerjaannya tak menetap. Mungkin, jika yang mereka hina adalah aku, aku kan menerimanya dengan penuh lapang dada. Tetapi jika yang mereka hina adalah Ibu & Ayahku, rasanya ingin aku merobek-robek mulut mereka.

Akan tetapi rasanya semua itu tak akan terjadi & dan tak akan pernah terjadi. Karena Ibu & juga Ayahku selalu mengajarkan kebaikan, bukan keburukan.

“Jika kita melihat bara api, maka janganlah kita menambahinya dengan api yang membara. Tetapi hadapilah api itu dengan siraman air yang dingin & menyegarkan.”

Begitulah nasehat yang aku peroleh dari kedua orang tuaku yang selama ini masih tetap ku pegang teguh. Hingga tanpa terasa lamunan yang membawaku kedalam khayalan, mampu mengantarku ke dalam mimpi.



u u u



“kringg …”

Dering jam yang terdengar sebegitu kerasnya membuatku terbangun dari tidur pulasku. Dengan sedikit bermalas-malsan aku menyambar dan mematikan jam beker yang sedari tadi tetap berdering. Saat keluar dari dalam kamar, aku melihat keadaan Ibu dan juga Ayah semakin hari semakin membaik. Dan merekapun sudah kembali beraktifitas seperti biasa. Tenang rasanya hati ini meihat mereka kembali tersenyum.

Pagi yang segar nan menyejukkan, membuatku sejenak ingin menikmati suasana pagi. Saat ku tengah duduk-duduk santai di teras, anganku kembali melayang kepada kejadian waktu 5 hari silam. Saat aku hendak pergi meninggalkan rumah. Kini rasanya timbul kembali rasa ingin mengulanginya. Aku ingin pergi merantau ke kota. Karna banyak orang mengatakan bahwa kota adalah sumber penghidupan. Di sana tersimpan begitu banyak penghasilan, banyak pula uang. Begitulah kata-kata yang sering aku dengar dari mereka-mereka yang pernah mengadu nasib ke kota.

Tapi, untuk lebih jelasnya lagi aku tak tahu. Karna aku belum pernah menginjakkan kaki di kota. Hingga saat malam tlah tiba, anganku terus terbayang pada omongan para tetangga yang selalu merendahkan keluargaku. Ditambah lagi dengan kejadian 5 jam yang lalu. Saat aku hanya bisa terdiam tak berkutik, ketika aku mengutarakan keinginanku untuk menjadi sorang penulis, namun Ayah menyikapinya dengan ketidaksetujuan atas apa yang aku harapkan.

“Ayah ….” Panggilku lirih seraya meletakkan secangkir kopi untuk Ayah di meja dekat ayah duduk. “Iya, Zola …” Jawab Ayah sambil meneguk secangkir kopi yang tadi aku berikan.

“Zola ingin berbicara sesuatu pada Ayah”

“Iya, katakan saja apa yang ingin kau katakan”

“Ini masalah keinginan Zola yang sudah lama Zola inginkan”

“Memangnya kamu menginginkan apa ??” Tanya Ayah penuh penasaran.

“Emh…. Zola ingin menjadi sorang penulis Ayah …” Jawabku dengan tubuh yang bergemetaran. Tak ada respon sama sekali yang Ayah tunjukkan kepadaku, hanya saja Ayah langsung menghentikan acaranya meminum kopi. Dari mimik wajah yang Ayah tunjukkan padaku, menandakan bahwa Ayah tidak menyetujui keinginanku. Memang sudah lama aku mengutarakan hal itu kepada Ayah, tetapi Ayah selalu melarang dan tidak menyetujuiku menjadi seorang penulis dengan tanpa alasan yang jelas.

“Ayah …! Aku ingin sekali menjadi seorang penulis Ayah !!!” rengekku penuh berharap.

“Zola, sudah berkalikali Ayah bilang sama kamu. Jangan sekali-kali kamu berpikir untuk menjadi penulis!” Tegas Ayah dengan nada penuh emosi.

“Hik…hik…” “tapi, Ayah … itu adalah cita-cita Zola sejak kecil …!” Ibaku kepada Ayah dengan air mata yang mulai menitik.

“Ayah bicara seperti ini semua demi keselamatanmu Zola!” Jawab Ayah sambil berlalu meninggalakan aku.

“Ayah…!” seruku dengan nada yang semakin lirih. Air mataku terus mengalir semakin deras. Setelah aku berdebat dengan Ayah, seketika sekujur tubuhku lemas rasanya. Hingga membuat tubuhku jatuh ke lantai. Sungguh, malam itu adalah malam terburuk dalam hidupku. Saat kehangatan, tawa serta canda terkikis oleh satu permasalahan. Dimana aku harus memilih diantara dua pilihan. Antara sebuah kebersamaan suatu keluarga atau impian yang selama ini menjadi sebagian dari hidupku. Sebuah impian yang ku harapkan bisa berubah menjadi kenyataan, tak lagi hanya menjadi sebuah halusinasi.

Waktu menunjukkan tepat pukul 24.00. malam itu juga aku beranjak pergi meninggalkan rumah dengan hanya membawa beberapa potong pakaian dan uang ratusan ribu, serta berkas-berkas penting. Berharap bias memperoleh pekerjaan sesuai dengan apa yang ku ingin. Aku tak peduli dengan apapun yang akan terjadi. Yang aku fikirkan adalah berharap cita-citaku kan segera tergapai. Dan buktikan kepada Ayah, bahwa menjadi seorang penulis bukanlah suatu hal yang buruk. Sebelum aku pergi meninggalkan rumah, aku sempat meninggalkan pesan ke dalam secarik kertas. Yang isinya adalah berharap agar Ibu dan juga Ayah tidak mencemaskan aku dan meminta Ayah untuk merestui dengan apa yang aku cita-citakan. Dan di akhir kata, aku sampaikan permohonan maafku karena aku pergi tanpa pamit. Tetapi satu yang aku pinta dari Ibu & juga Ayah. Jangan sampai menganggap aku anak durhaka.

Karena jauh dalam palung hatiku, aku tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Takdir yang membuatku seperti ini.



u u u



“Tit… tit… tit…”

Suara klakson yang terdengar bersahut-sahutan tanpa henti, membangunkan tidurku dari mimpi indahku. Kubuka mataku perlahan dan seketika itu aku mengernyit karna sinar matahari yang begitu terang.

“Klekk…” terdengar seseorang sedang membuka pintu dari arah belakangku. Ku menengokkan kepala bersamaan dengan munculnya seorang security yang datang menghampiriku.

“Hey, kamu!” “cepat pergi!” “Di sini bukan untuk tempat menjual kue, bukan tempat untuk tidur tau,.!”

Bentak security itu dengan galaknya. Dan dengan perawakan tubuh yang besar & berotot membuatku semakin seram melihatnya. Ku tak mengeluarkan sepatah katapun. Langsung saja aku menyambar tasku dan mengerek koperku. Di tengah perjalanan tiba-tiba ada beberapa orang yang menghadang perjalananku, dan menodongkan pisau tepat di leherku. Mereka mengancam jika aku tak menyerahkan Page | 3semua barang-barangku, mereka akan membunuhku. Dengan tubuh yang gemetaran aku menyerahkan tas dan koperku yang berisikan uang dan barang-barang berhargaku.

Setelah mereka mendapat semua barang-barangku, dengan cepatnya mereka berlari meninggalkan aku. Ku ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Ku tetap melanjutkan perjalanan meski tak tahu arah yang akan kutuju. Di bawah sinar terik matahari, perutku terasa lapar dan tenggorokanku penuh dahaga. Kini aku bisa merasakan bahwa semua yang dikatakan orang-orang tentang indahnya kota laksana surga, semua itu hanyalah tipu muslihat semata. Dan bagi mereka-mereka yang tidak mempunyai keahlian bisa dipastikan akan mati kelaparan.

Lapar yang sangat, menusuk perutku membuatku lemah tak bertenaga menjadikanku berjalan sempoyongan. Hingga akhirnya aku terjatuh pingsan di pinggiran jalan raya. Dan saat itu juga orang-orang datang mengerumuni aku.



u u u



Perlahan ku membuka kelopak mataku sambil ku memegangi kepalaku yang masih terasa sedikit pusing. Sesaat aku tercengang melihat keadaan di sekelilingku. “Dimana aku…?!!” Gumamku dalam hati. “Kamu sudah bangun nak!” sapa seorang Ibu yang sudah hampir separuh baya membuyarkan rasa panasaranku. “emh… Ibu siapa??!” “dan dimana aku” Tanyaku penuh rasa ingin tahu. “Kamu sekarang ada di rumah Ibu, tadi Ibu temukan kamu pingsan di pinggir jalan.” Jelas Ibu sambil menaruh nampan berisikan satu piring nasi + lauk dan segelas air putih.

“Perkenalkan, nama Ibu Siti Aminah, tetapi orang-orang biasa memanggil Ibu dengan sebutan “Mbok Minah” tutur mbok Minah penuh dengan kelembutan. “Eneng sendiri namanya siapa?” Tanya mbok Minah sambil duduk di sampingku.

“Nama saya Zola, Zola Fatimah Az-Zahra.” Jawabku dengan tubuh yang tak bertenaga.

“Ya sudah, sekarang lebih baik neng Zola makan dulu!” “Pasti eneng sangat lapar.”

Aku hanya tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Saking bersemangatnya aku hendak meraih makanan yang ada di meja, tanpa terasa tanganku menjatuhkan sebuah benda dan mengenai kakiku.

“Aduh…!” Ujarku saat aku terkejut karna kakiku tertimpa sebuah boneka. Aku pungut boneka di samping kakiku dan kupandangi boneka itu.

“Itu adalah boneka milik anak mbok. Dia meninggal satu tahun yang lalu,” mbok Minah menjelaskan siapa pemilik dari boneka yang lucu itu. “Sudahlah, sekarng Eneng teruskan saja makannya. Mbok mau ke depan dulu kelihatannya sudah banyak pembeli.”

“Iya mbok.”



u u u



Akhirnya, lama kelamaan aku jadi betah tinggal di rumah mbok Minah. Dan sebagai rasa terima kasihku, setiap hari aku bantu-bantu mbok Minah melayani para pembeli. Karena di warung milik mbok Minah setiap hari selalu ramai pembeli. Suatu ketika saat aku hendak pergi berbelanja ke pasar, aku berjalan dengan santainya. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Dan ada selebaran kertas yang beterbangan menutupi wajahku dan membuatku sedikit terkejut.

Aku ambil kertas itu & aku baca kata demi kata dari atas. Ternyata selebaran kertas itu berisikan brosur lomba menulis/mengarang.

Tiba-tiba terfikir olehku untuk mengikuti perlombaan itu. Setelah membaca tulisan itu aku jadi tambah bersemangat menghadapi kejamnya kehidupan kota. Sesegera mungkin aku berbelanja dan bergegas untuk kembali pulang ke rumah mbok Minah.

“Sya…la…la…la” Saat aku hamper tiba di depan rumah mbok Minah, aku bernyanyi sambil meloncat-loncat dengan satu kaki bergantian dengan kiri kemudian kanan. “Mbok…!!” teriakku sambil berlari menuju warung untuk menemui mbok Minah. Setibanya di warung, aku langsung memeluk erat-erat mbok Minah. Dan mbok Minah pun terheran-heran akan tingkah lakuku. Setelahnya aku meletakkan barang belanjaan kemudian aku ceritakan kejadian apa yang telah aku alami tadi pagi. Dan mbok Minah pun menyetujui keinginanku. Bahkan mbok Minah sampai rela mengeluarkan uang untuk keperluanku. Melihat perjuangan mbok Minah agarku bias menjadi penulis terkenal begitu besar …

Akupun serasa hidup kembali. Karna dulu, meskipun ragaku hidup. Tetapi jiwa seperti layaknya orang mati. Karna terpicu oleh satu hal, yakni orang tuaku yang tidak bersependapat dengan keinginanku. Dengan penuh semangat ’45 aku memulai tuk mengarang. Selama kurang lebih satu minggu. Perasaan penuh kecemasan, gelisah serta deg-degan menyelimutiku setiap hari.

“Permisi…” Ujar seorang laki-laki berbadan tegap menghampiriku yang tengah duduk santai di teras depan.

“I, iya” jawabku dengan sedikit gugup.

“Maaf, apa benar ini rumah dari Zola Fatimah Az-Zahra…??!!”

“iya benar”

“Maaf mbak, ini ada surat kilat khusus untuk mbak Zola” kata cowok yang usianya kira-kira sama denganku.

“O…iya terima kasih” balasku dengan senyum yang mengembang dari bibirku.

Kubuka perlahan isi dari amplop itu. Dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa isi dari surat itu adalah pemberitahuan bahwa tulisanku diterima & dinobatkan sebagai juara pertama. Dari situlah awal dari perjalanan karierku sebagai seorang penulis. Lambat laun tulisan-tulisanku sudah banyak yang diterbitkan dan diminati oleh banyak orang. Bahkan ada beberapa yang diangkat ke dalam FTV. Hingga pada akhirnya aku bias membeli rumah serta mobil mewah.

Tapi sayangnya orang yang selama ini berperan penting dalam karierku dan sudah ku anggap seperti orang tuaku sendiri, menolak untuk aku ajak pindah ke rumah yang baru.

Mbok Minah menolak dengan alas an meskipun rumah yang ia tinggali tidak sebesar dengan rumah yang aku belikan tetapi dia tetap nyaman berada di rumah yang agak sempit itu. Karna itu adalah gubuk suka dan derita yang dibangun oleh mbok Minah bersama almarhum suaminya.

Akhirnya aku memutuskan memberikan rumah yang aku beli tersebut untuk disumbangkan ke panti asuhan.

“Sementara itu, Ayahku yang berada di kampong penyakitnya kembali kambuh, dan ditambah lagi aku yang sudah sekian lama tinggal di kota tanpa ada kabar sedikitpun membuat Ayahku putus harapan.”



u u u



3 bulan kemudian . . .

Tanpa terasa, malam yang kelam tlah berganti dengan pagi yang bersinar. Dari dapur tercium aroma yang menggugah selera makan. Ternyata mbok Minah ingat bahwa hari ini aku akan pulang kampong. Jadinya pagi-pagi sekali mbok Minah sudah memasak. Memang, sedikit berat aku meninggalkan mbok Minah. Tapi apalah daya, aku masih mempunyai keluarga yang menungguku di kampung. Sesampainya di depan rumah, aku terkejut dengan mulut yang menganga lantaran mengetahui ada bendera kuning pertanda kematian yang dipasang di gawang rumahku. Secepat kilat aku lari masuk ke dalam rumah. Dan au langsung mendekati jenazah itu tanpa ku memperdulikan para peziarah yang sedari awal memandangiku. Kubuka perlahan kain yang menutupi wajah jenazah itu.

“Ayah…!!” Teriakku dengan air mata yang berlinangan. Betapa terkejutnya aku, saat mendapati Ayah tlah terbaring terbujur kaku. Tangisanku semakin menjadi-jadi saat jasad Ayah hendak di kebumikan.

“Ibu… kenapa Ayah pergi meninggalkan Zola bu..” kataku sambil bersandar di pundak Ibuku.

“Sudahlah Zola, di dunia ini tak ada yang abadi. Semua yang hidup pasti akan mati” Tutur Ibu sambil mencoba menenangkanku dan berusaha menutupi kesedihan yang tlah dialami.

Saat aku mendekati gundukan tanah yang bertaburkan bunga itu, rasanya seperti ada medan magnet yang menarik diriku untuk berlutut.

Satu persatu para peziarah meninggalkan tempat pemakaman. Kini tinggallah aku dan Ibuku seorang.

“Zola,” Panggil Ibu lirih.

“Satu hal yang harus kamu tahu. Sebetulnya Ayah bersikeras melarangmu untuk menjadi seorang penulis, karena Ayah tidak mau kamu mengalami kejadian yang sama seperti kakakmu. Karna dulu kakakmu juga seorang penulis. Dan dia dibunuh secara diam-diam karena berani menuliskan tentang para pejabat yang korupsi dan suka bermain perempuan.” Ungkap Ibu yang selama ini menjadi rahasia terpendam.

Air mataku yang semula hendak berhenti, kini harus kembali mengalir deras. Setelah aku mendengar penjelasan dari Ibu. Kesalahan-kesalahan yang terus membayangiku membuat aku semakin lemas dan tak berdaya di samping makam Ayah.

Kini hanya sebuah penyesalan yang aku terima.

“Ayah…maafkan Zola Ayah…”

Kataku sambil beranjak meninggalkan tempat pemakaman.




















Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Photobucket